Penataran, Candi Mahakarya Lima Raja, dan Misteri yang Menyelubunginya


Seorang raja yang begitu, takut, pada, bencana, memutuskan, membangun, candi, untuk, memblokir, kekuatan, alam, Langkah, ini, pun, diikuti, raja-raja, besar, Jawa, hingga, terciptalah, kompleks, candi, termegah, dari era, Majapahit Yakni, Candi, Penataran di Blitar, Jawa, Timur.

Oke, teman-teman, kita, masih di negara, Indonesia, Dan bangunan, sejarah, yang kita, kunjungi, Dibangun kira-kira bersamaan saat Sultan Salahuddin, bersama Raja Richard menandatangani, perjanjian, damai, dan mengakhiri, Perang, Salib, ketiga, Yuk, Demi, kenyamanan, menonton, video kami, Tekan, tombol, ini, untuk, memunculkan, subtitle Bahasa, Indonesia, maupun Bahasa, Inggris, Anda, pun, dapat, mengatur, speed, video dengan, menekan, tombol, ini, Siang, itu bumi, berguncang, hebat, Ledakan-Ledakan dahsyat berdentam di angkasa, Gunung Kelud, salah satu gunung paling aktif di Jawa, meletus pada, tahun 1334 masehi Begitu hebatnya aktivitas, vulkanis, tahun, itu Negarakertagama, mencatatnya, sebagai, saat, jelmaan, raja dewa, lahir di bumi, Dan pada tahun yang sama, Pararaton, mencatat, dikumandangkannya, Sumpah, Palapa, oleh, Mahapatih, Gajah, Mada Di sepanjang sejarah amukan Gunung Kelud mengakibatkan, kerusakan, yang parah, Dan menelan, korban belasan, ribu, jiwa Abu vulkanisnya, tersembur, ke, hampir, seluruh, pulau, Jawa, Leluhur, kita, mencoba, menjelaskan, kengerian, gunung ini, dalam, kitab, Tantu, Panggelaran.

Saat, Dewa, Gana, bertapa, datanglah, Bathara, Brahma, yang mengujinya, dengan, pertanyaan, “Berapakah, jumlah, kepalaku, Jika, salah menebak matilah kau, ” Bathara Brahma berkepala, lima namun, disembunyikannya, satu sehingga, Gana terkecoh dan menjawabnya empat kepala.

Bathara Guru, yang mengetahui, trik, itu segera, menyelamatkan putranya, Gana, dengan memotong, satu kepala, Bathara Brahma hingga jumlahnya, menjadi, empat., Namun, Bathara Guru, kebingungan meletakkan, potongan, kepala sang dewa, Api.

Bila dilempar ke, laut, laut, pun, kering., Bila, dilempar, ke, langit, langit, pun, terbakar., Akhirnya, kepala, itu ditanamnya di Gunung, Kelud. Karena, menyimpan, potongan, kepala, dewa, api Gunung, Kelud, berubah, menjadi, gunung, api yang mengamuk, dengan hebat, ketika, meletus.

Berbagai, upaya, dilakukan, orang, Jawa, Kuno, untuk, mengatasi, bencana, Vulkanis mulai dari tindakan fisik berupa, pembuatan, bendungan dan sudetan sungai, Hingga, tindakan, spiritual yakni, menenangkan penguasa, gunung, Kelud, dengan, membangun, tempat, peribadatan, pada, lerengnya.

, Ketika, gunung ini, meletus, seperempat, milenium, silam., Raja Kertajaya, dari, Kerajaan, Kediri, dibayangi, kengerian, akan, kehancuran, yang menjelang., Namun, sesuatu, terjadi., Setelah, letusan, berlalu, Kerusakan yang terjadi tidaklah parah.

Fenomena ini, mengejutkan, kalangan, istana., Terembuslah, kabar, bahwa, amukan, Gunung, Kelud, mereda, berkat, doa, atau, puja, yang dipanjatkan di lereng, gunung oleh seorang, pendeta, bernama, Pu, Iswara, Mapanji, Jagwata.

, Begitu, terkesannya, Raja Kertajaya, tempat, tinggal, pertapa, itu yakni, Palah, disakralkan, dan dijadikan, sima atau, Daerah bebas pajak. Di sana pun, dibangun, tempat, peribadatan dan Raja Kertajaya, senantiasa, beribadah di dalamnya.

, Inilah titik, anjak, pembangunan, Candi, Palah, yang kini, dikenal sebagai, Candi, Penataran., Yuk, saya, jelaskan., Begitu, masuk, kita, disambut, dua, arca, Dwarapala, besar., Lalu, ada, mandala Jaba, atau, profan, yang disebut, Bhurloka.

Di Sini terdapat bale agung polos tanpa relief., Bagian atas, bangunan ini, terbuat, dari, bahan, tidak, permanen dan sudah, hilang. Di mandala, ini, juga, terdapat, pendopo, teras, yang kemungkinan, fungsinya sama, dengan bale, agung.

, Yakni, sebagai, tempat, persiapan ritual Bangunan, ini, penuh, dengan relief, cerita panji dan dibaca, secara, prasawya, Atau berlawanan dengan jarum jam. Ada, beberapa, cerita yang dikenali di antaranya, Sri Tanjung dan Bubuksah-Gagangaking.

, Beberapa relief, lainnya belum teridentifikasi., Terdapat, umpak, Dua miniatur dan satu menhir yang belum, jelas fungsinya., Nah, yang paling, terkenal di kompleks, ini, adalah, Candi, Angka, Tahun., Teman-teman, perhatikan, ‘ya, gayanya, khas, Singhasari, Mengingatkan kita pada Candi Jawi di Pandaan.

Di dalam, candi ini, terdapat, arca, Ganesha, yang sebenarnya, tidak berasal dari sini. Dan di bagian, dalam cungkupnya terdapat Dewa Surya, atau, dewa, matahari, yang sering, kali diidentifikasi, sebagai, Surya, Majapahit.

, Selanjutnya, kita, melewati, gapura, yang hanya, tersisa, alasnya., Sampailah, kita di Mandala madya atau Bhurwarloka yang lebih, suci, dari area, sebelumnya. Area, ini, agak, sempit, dan yang menonjol, adalah, terdapatnya, bangunan, yang diduga, tempat, menyimpan, peralatan, upacara.

, Kita, mengenalnya, sebagai, Candi, Naga karena, terdapat relief, naga yang membelit bangunan ini., Bagian, dalamnya, kosong dan terbuka., Nah, selanjutnya, kita, melintasi, sisa-sisa, Gapura Paduraksa dan memasuki, mandala utama, atau Swarloka, yakni area paling suci.

Di sinilah, terdapat candi, induk., Meskipun, megah, teman-teman, namun ini, hanya, kaki, candi., Badan, candinya, teronggok di tanah, dan masih berupa, susunan, percobaan., Candi, induk ini, memiliki, tiga, teras, yang bisa, kita, naiki.

, Pada, dinding, teras, bawah, Terukir fragmen kisah Ramayana. Pada dinding, teras tengah, terdapat relief, Kresnayana. Sementara pada dinding, teras, teratas, terdapat, hiasan, naga dan singa yang berselang-seling.

, Uniknya naga dan singa ini, memiliki, sayap, dipahat, naturalis, menyerupai, sayap, malaikat, gaya, Eropa., Tangga, naik, candi, induk, dikawal, dwarapala, dalam, pahatan, yang indah, meskipun, banyak Yang tidak utuh.

Arca ini, berdiri di atas, padmasana yang berisi, tengkorak sebagaimana arca-arca bernuansa tantra Bhairawa., Candi, Penataran memiliki, dua area petirtaan, yang digunakan, untuk, bersuci., Yang pertama, ada di sini di dalam, kompleks candi.

Dan yang kedua, berjarak 500 meter dari kompleks, candi., Mempertimbangkan, jaraknya, mungkin, saja, Petirtaan dalam kompleks ini, adalah, yang pertama, dibangun. Sementara, petirtaan, kedua, baru, dibangun, setelah, candi ini, mengalami, perluasan.

, Perintah, yang melatari, pembangunan Candi, Penataran, dicatat, dalam, prasasti, Palah, yang hingga, kini tidak, bergeser, dari, tempatnya., Namun, tempat, peribadatan, yang dahulu, digunakan, Raja Kertajaya, kini, tak, ada, lagi, diduga, sudah, Berkembang menjadi candi induk.

Hal ini, disebabkan, candi ini, terus, mengalami, pengembangan, dan perluasan, yang dilakukan, para penguasa, selanjutnya., Ini, dibangun, raja kedua, Majapahit, Ini, dibangun, raja ketiga, Majapahit, Ini, dan ini, dibangun, raja keempat, Majapahit, Lalu, ini, dibangun, raja keenam, Majapahit, Jadi, terlihat, ya, kompleks, candi, ini, berdiri, Melintasi tiga masa kerajaan yakni, Kedhiri, Singhasari dan Majapahit, Dan melibatkan, lima, raja dalam, pembangunannya.

, Hingga, banyak, sejarawan, meyakini, candi, ini, adalah, candi, negara., Pada, masa, keemasan, Majapahit, jika, Trowulan, adalah, pusat, politik Maka Candi Penataran, adalah, jantung, spiritualnya., Bahkan, dalam, catatan, Bujangga, Manik, pada, sekitar, akhir, kerajaan, Majapahit Di awal abad, 16 Kompleks candi ini, masih, sangat, ramai, oleh, peribadatan.

, Terus, ikuti, ya, teman-teman, Karena, ada, banyak, misteri, yang melingkupi, candi terbesar di Jawa, Timur ini, yang masih, menjadi perdebatan di kalangan, sejarawan. Termasuk mengapa di candi, ini, terdapat, begitu, banyak, naga.

, Tapi, sebelumnya, jangan, lupa, untuk, Subscribe LIKE dan SHARE. Tindakan yang mudah, untuk Anda namun memiliki, pengaruh, besar, bagi, pekerjaan, kami, mengembangkan, kanal, yang memperkaya, perspektif Anda.

, Sejarawan, masih, menduga-duga, mengenai, beberapa, hal, terkait, candi, ini., Pertama, mengenai, atap, candi, yang hilang, tanpa, menyisakan, petunjuk, apa, pun., Para arkeolog, berusaha, merekonstruksinya, dengan, mencontoh, Pura, Yeh Gangga di Bali, Yang memiliki kesamaan dengan Candi Penataran baik struktur bangunannya maupun tahun pembuatannya.

, Maka, diduga, wujud, Candi, Induk, Penataran, adalah, seperti, ini., Jika, benar, demikian, candi ini, pasti, tinggi, menjulang, agung, dan layak, menjadi, candi, negara., Kedua, ada, arca di depan, Candi, Angka, Tahun, yang masih, Belum teridentifikasi.

Arca ini, memegang, aksamala dan memegang kapak. Siapakah, dewata yang memegang, kapak Di sebelahnya, terdapat arca dewi yang memegang, aksamala dan tanaman sejenis padi. Kemungkinan ini Dewi Sri., Maka, pendapat, saya, apa, bukan, mustahil ini, adalah, arca, awatara, Wisnu, dalam, bentuk, Rama, Parasu, yang memegang, kapak.

, Lagi, Pula dua relief di candi, induk memahatkan kisah Ramayana dan Kresnayana yang keduanya, juga adalah awatara Wisnu., Rama, Parasu, dikenal sebagai, awatara yang memusnahkan, kaum ksatria, karena, peperangan, yang mereka, kobarkan menyebabkan, dunia, menjadi, tidak, seimbang.

, Jika, benar ini, adalah, Rama, Parasu, Awatara, dengan, posisi di mandala, jaba, maka, Seolah-Olah arca ini, sedang, menjaga, candi, dari, kerusakan, akibat, perang., Mungkinkah ini, terkait, perang, saudara, yang berkobar di Majapahit, Misteri ketiga di candi, ini, ada, dalam, ikonografi, Candi, Naga.

, Terlihat, ya, candi, ini, dililit, naga raksasa, dan figur manusia, sebanyak, sembilan., Masing-masing, figur, membawa, peralatan, upacara, berupa, lonceng, sambil, Menyangga naga dengan tangannya. Ada yang menganggap, figur ini, adalah, raja-raja, yang berpakaian, pendeta.

Sejarawan, lain menolak, karena, tidak, mungkin, sembilan, raja berada, dalam, satu bangunan, dan menduga, figur ini, adalah, pendeta, yang berpakaian, raja atau, kedewataan., Oleh, sejarawan, lainnya, figur-figur, ini, dianggap, dewi dan ada, juga yang menganggapnya.

Para dewa sehingga keseluruhan bangunan ini, merepresentasikan, kisah, Samudra, Mantana Di mana, gunung Mahameru, dililit, naga raksasa dan digunakan, mengaduk, samudra, oleh, para dewa., Peneliti, lain mementahkan, dugaan, ini, dengan, alasan, kisah, Samudra, Mantana, selalu, menampilkan, sosok, asura, sebagai, pengimbang, para dewa, Sementara di bangunan, ini, tidak, ada, asura.

, Menurut pendapat saya ini, jelas, kisah, Samudramantana, versi, Tantu, Panggelaran, yang memang, tidak menampilkan, sosok, asura, tetapi, hanya, para dewa, dan pendeta., Mungkin, ada, kesengajaan…, ikonografi, keduanya, disatukan, untuk, menyatakan, sifat, pendeta, yang mencapai, kedewataan.

Dan ini, memberi, gambaran, bagi, kita, bahwa, kisah, Samudra, Mantana, versi, Tantu, Panggelaran, sudah, Dikenal dalam masyarakat Jawa Kuno jauh, sebelum, kitab, itu sendiri, dituliskan. Bagi, yang penasaran, dengan dua, versi, kisah, Samudra, Mantana, silakan, klik, tautan di atas, ya, Atau, lihat, link di deskripsi.

, Maka jelaslah, bahwa, candi, Penataran, adalah, perwujudan, Gunung, Mahameru, yang dibelit, naga dalam, kisah, Samudramantana., Tak, heran, candi, Ini penuh dengan naga. Hampir, semua, bangunannya, dibelit, ular, naga.

, Mulai, dari bale, agung, pendopo, teras, hingga, candi, naga yang tersohor, ini. Bahkan teras, teratas di bangunan, induk pun, ikut, diramaikan, oleh, figur, ular, bersayap., Layaklah, jika, candi, ini, disebut, sarang, naga.

, Candi, Penataran, sendiri, awalnya, dibangun, untuk, meredam, Amukan Gunung Kelud. Namun di masa, Majapahit candi ini, berkembang, menjadi, sarana, pemujaan dan belajar agama. Di zaman, itu dewa, yang dipuja di candi, ini, disebut, Sanghyang, Ancalapati, atau, Dewa, Siwa yang bersemayam di puncak, gunung Mahameru.

Juga di gunung-gunung, lain termasuk, Gunung kelud. Di awal, video disebutkan, bagaimana Gunung Kelud meletus hebat pada, tahun 1334 Masehi Momen, itu bersamaan, dengan, lahirnya, Raja Hayam, Wuruk, sehingga, Prapanca, mencatat, letusan, ini, sebagai, pertanda, bahwa, jelmaan, Bathara, Girinatha, atau, raja gunung, atau, Dewa, Siwa, lahir, ke, bumi, sebagai, Raja Hayam, Wuruk.

, Ini, adalah, cerminan, konsep, dewaraja, yang berakar, pada, hubungan, Makrokosmos atau alam raya dengan mikrokosmos atau manusia. Di mana, mikrokosmos adalah bayangan dari makrokosmos, Dalam, makrokosmos, penguasa, alam, adalah, Bathara, Girinatha, Sementara, dalam, mikrokosmos, penguasa, manusia, adalah, Raja Hayam, Wuruk.

, Bisa, dibilang, Raja Hayam, Wuruk, adalah, bayangan, dari, Bathara, Girinatha, Maka, ketika, tercatat, beberapa, kali, bahwa, Raja Hayam, Wuruk beribadah di candi ini, Menurut, saya, yang terjadi, adalah penyatuan, antara sang raja dengan, Bathara Girinatha, laksana, bayangan, yang menemukan, objek aslinya.

, Penyatuan, inilah, sebenarnya, esensi, Tantra, Sehingga, tidak, mengejutkan, bila relief, panji yang merupakan, personifikasi ajaran Tantra banyak dipahatkan di candi, ini, Bersama, ular, naga yang merupakan, Personifikasi dari energi kundalini.

Dengan beribadah di candi, ini, Raja Hayam, Wuruk, diantar, untuk, menyatu, dan menjadi, Bathara, Girinatha, yang mengejawantah., Hal, serupa, juga, terjadi, pada, diri, Raja Kertajaya, raja pertama, yang menjadi, biang, dibangunnya, candi, ini.

, Dalam, prasasti, Palah, disebutkan, setiap, hari, Raja Kertajaya, beribadah di candi, ini., Saya menduga beliau pun, mencapai, penyatuan, dengan, Bathara, Girinatha, seperti, yang dialami, Raja Hayam, Wuruk.

, Hal, ini, terlihat, dari, catatan, Pararaton di mana, beliau digambarkan, mengaku, sebagai, Bathara, Girinatha, dan meminta, disembah, oleh, para agamawan., Sayangnya, para, agamawan, menolak, dan memilih, merestui, pemberontak, dari, Tumapel, bernama, Ken Arok, sebagai, Bathara Girinatha.

Ken Arok pun, memanfaatkan momentum, itu untuk, menghabisi, Raja Kertajaya., Jelmaan, Bathara, Girinatha, melawan, jelmaan, Bathara, Girinatha., Dan Ken Arok menang, hingga, takluklah, Kerajaan, Kedhiri.

, Anugerah, yang diperoleh, Raja Hayam, Wuruk, dengan, Raja Kertajaya, di Candi, Penataran, mungkin, saja, sama., Namun, yang membedakan, adalah, reaksi, keduanya., Ada, Kesan takabur di dalam, diri, Raja Kertajaya, ketika, menuntut, dirinya, diperlakukan, seperti, dewa, sehingga, hasil, akhirnya, sangatlah, berbeda.

, Raja Hayam, Wuruk, semakin, agung, dan kerajaannya, memasuki, masa, keemasan, Sementara, Raja Kertajaya, tewas, pralaya, dan kerajaannya, pun, takluk., Apa, yang terjadi di masa, depan kadang-kadang, memang, ditentukan, oleh, reaksi, kita, Hari ini.

Maka, sikapilah, apa, pun, itu dengan, sebaik-baik, reaksi, untuk, mendapatkan, sebaik-baik, hasil,

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama