Hukum Memakai Softlens saat Puasa, Makruh atau Bisa Batal Ya?

Bulan Ramadan jadi salah peristiwa kita melaksanakan ibadah sebanyaknya ke Allah SWT. Melaksanakan ibadah pada bulan ini lebih banyak kelebihan yang dapat dicapai. Tetapi, sepanjang berpuasa banyak rintangan dan batas yang perlu kita penuhi.


Salah satu perihal penting yang penting diingat saat berpuasa ialah jaga supaya tidak ada benda yang masuk lewat beberapa lubang di badan yang ada, seperti mulut, hidung, telinga, dan dua lubang kemaluan. Lantas, bagaimana dengan mata?


Saat kita menggunakan softlens saat berpuasa apa dapat menggagalkan atau bahkan juga puasanya tidak diterima? Bagaimana hukumnya?


1. Hukum masukkan suatu hal ke badan


Ada banyak hal yang dapat menggagalkan puasa. Larangan yang pertama dengan menyengaja masukkan suatu hal ke lubang badan. Puasa dapat gagal saat ada benda, baik itu makanan, minuman atau benda lain.


Diambil dari NU Online, disebut oleh Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin dari Mazhab Syafi'i dalam Busyral Karim yang maknanya:


"Ke-4 ialah mengendalikan diri dari masuknya satu benda ke lubang seperti sisi dalam telingan dan lubang kemaluan dengan persyaratan masuk lewat lubang terbuka)... Di luar dari pemahaman ‘melalui lubang terbuka', masuknya sebuah benda lewat lubang yang tidak terbuka," (Saksikan Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim bi Syarhil Muqaddimah Al-Hadhramiyyah, [Beirut, Darul Fikr: 1433-1434 H/2012 M], juz II, halaman 460-461).


Saat masukkan suatu hal ke lubang badan (mulut, hidung, telinga dan lubang kemaluan) secara menyengaja menggagalkan, berlainan hal saat benda yang masuk dilaksanakan pada kondisi lupa.


Pada kondisi begitu, puasa seorang itu tidak gagal dan masih syah. Sepanjang benda itu tidak dalam volume yang banyak, misalnya lupa minum dan makan.


Tetapi, seorang dapat dipandang syah puasanya bahkan juga saat dengan menyengaja masukkan benda secara ke lubang badan. Atas dasar orang itu belum pahami atau memang belum tahu jika hal tersebut dapat menggagalkan puasa.


2. Opini ulama masalah penggunaan softlens saat berpuasa


Berkenaan penggunaan softlens, beberapa ulama berlainan opini. Ketidaksamaan penglihatan ulama itu disebut oleh Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki dalam Ibanatul Ahkam.


Beliau merujuk ke rutinitas Aisyah RA, istri dari Rosulullah SAW yang bercelak saat berpuasa. Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki mengatakan jika mata bukan lubang di badan yang perlu dipiara. Menurut ke-2 nya, perlakuan bercelak untuk orang yang berpuasa tidak menggagalkan puasanya.


"Puasa seorang jadi gagal karena suatu hal yang masuk di dalam badannya lewat lubang seperti mulut dan hidung. Karena itu, hukum perlakuan terlalu berlebih dalam berkumur dan mengisap air ke hidung makruh untuk orang yang berpuasa. Sedang mata bukan lubang yang wajar. Oleh karena itu, perlakuan bercelak oleh orang yang berpuasa tidak menggagalkan puasanya," (Saksikan Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 303).


Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki mengusung ketidaksamaan opini ulama hal bercelak pada siang hari saat puasa.


"Dalam Mazhab Syafi'i dan Mazhab Hanafi orang yang berpuasa bisa bercelak mata. Puasanya tidak gagal baik celak itu berasa di kerongkongan atau mungkin tidak berasa. Tapi menurut ulama Syafi'iyah, bercelak saat puasa pada siang hari melanggar kelebihan. Sedang Mazhab Maliki dan Mazhab Hanbali mengatakan, puasa seorang gagal karena bercelak siang jika ada bahan materialnya berasa di lidah. Tapi perlakuan itu dimakruh [tanpa menggagalkan puasa] jika materialnya tidak berasa di lidah," (Saksikan Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 303-304).


3. Memakai softlens menggagalkan puasa seorang?

Dari bermacam info dan opini di atas, bisa diambil simpulan umum yang kemungkinan menjadi penengah. Warga Indonesia sebagian besar penganut Mazhab Syafi'i hingga dapat mengikut tuntunannya.


Dalam opini di atas masalah penggunaan celak, Mazhab Syafi'i menyebutkan hal tersebut dibolehkan dan tidak menggagalkan puasa. Tetapi, supaya tidak melanggar kelebihannya seharusnya dapat memakai softlens pada malam hari supaya menghindar khilaful aula/melanggar kelebihan.


Wallahual'alam.


Itu barusan info tentang hukum menggunakan softlens saat puasa. Mudah-mudahan info ini berguna untuk Mama dan Papah yang bingung dengan penggunaan softlens saat berpuasa ya!

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama